Properti Semester II 2019 Diprediksi Membaik

Ronny Wuisan berbincang dengan media (foto: UrbanAce)

Pemilu telah usai, meski telah banyak diantisipasi oleh berbagai stakeholder properti dan dianggap tidak banyak berpengaruh nyata beragam kalangan tetap menunggu sentimen tersebut dalam berbisnis. Di sektor properti, pemilu sudah dianggap siklus yang harus dihadapi dengan berbagai kreativitas oleh berbagai kalangan agar bisnis yang menggerakan 175 industri lainnya tersebut bisa tetap bergerak.

Pendiri sekaligus CEO UrbanAce Ronny Wuisan mengatakan meski masih ada banyak pembahasan tentang quick count, namun pemilu berlangsung aman. Sehingga secara umum, sektor properti pada semester II 2019 akan lebih baik dibanding semester I. Apalagi semester II tahun ini juga sudah langsung selesai hari raya Idul Fitri yang membuat masyarakat lebih banyak mengalihkan dananya untuk kebutuhan konsumtif hari raya.

“Terutama investor sangat wait and see serta menunggu stabilitas ekonomi pada kuartal I hingga semester I ini. Sedangkan end user ingin melihat bagaimana kebijakan pemerintah dalam merumahkan masyarakat. Apalagi dengan rencana pemerintah mengeluarkan rumah subsidi untuk milenial,” jelas Ronny.

Ronny optimis semester II akan lebih baik terhadap properti, apalagi properti sekitar stasiun MRT yang memiliki keuntungan dari mulai beroperasinya transportasi massal tersebut. Sedangkan soal harga yang properti yang dicari, Ronny memprediksi harga di bawah Rp1 miliar masih akan digemari terutama oleh end user dengan usia produktif alias milenial.

Ali Tranghanda Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) juga mengamini, kalau sentimen pemilu mempengaruhi properti hunian mewah dan harga-harga lebih dari Rp1 miliar. Apalagi di daerah seperti Bekasi dan Tangerang, hunian Rp700 juta hingga Rp1 miliar masih sangat diminati.

Sementara itu dari sisi pengembang, Direktur Independen PT Ciputra Development Tbk mengatakan kalau ada peluang properti kembali bangkit seiring pulihnya sektor lain pada tahun ini. Di bahkan menyebutkan awal semester II 2019l, 2020, hingga 2021, properti bisa recover.

“Siklusnya sudah 5 tahun harusnya sudah cukup kembali demand,” kata Tulus.

Adapun, secara tren kata Tulus, khususnya di kota besar, permintaan akan properti yang dekat dengan akses transportasi massal memang masih menjadi daya tarik. Oleh karena itu, sejak 2015 pengembang mulai memperhatikan aspek konektivitas tersebut.

“Saat ini tren commuter line, dekat dekat lokasi MRT dan LRT itu jadi salah satu daya tarik konsumen,” ujarnya.

Diolah dari berbagai sumber

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *