Ini Trik Jual Properti di Era Digital

Pemasaran properti di era seperti sekarang ini sudah mengalami pergeseran cukup drastis. Dahulu, agen-agen saling berlomba menjual propertinya dengan memberikan iming-iming harga murah, fasilitas top, dan sebagainya.

Namun, di era digital ini, pemasaran properti tidak bisa dilakukan dengan cara seperti itu lagi. Target konsumen yang telah banyak berubah membuat agen juga harus ikut berubah.

Berkaca dari hal tersebut, tak salah jika CEO sekaligus Founder UrbanAce Ronny Wuisan mengedepankan tagline Stop Selling, Start Telling.

“Mulai sekarang, properti developer dan agen harus ganti cara komunikasi marketingnya menjadi Stop Selling, Start Telling karena target buyer 70 persen didominasi millennial alias end user,” kata Ronny.

Cara Stop Selling, Start Telling yang dimaksud Ronny bisa menjadi strategi baru bagi agen memasarkan propertinya. Di zaman seperti ini, agen dan pengembang properti tidak hanya sekadar menjual propertinya, melainkan juga memberikan edukasi dan pemahaman bagi para konsumennya yang sebagian besar milenial tersebut.

Para agen dan pengembang tak melulu mengedepankan harga, fasilitas, dan sebagainya ketika memasarkan propertinya. Mereka harus mulai menyampaikan atau menceritakan pengalaman tinggal atau membeli properti yang dipasarkannya.

Pengalaman itu bisa dikaitkan dengan bagaimana rencana ke depan lokasi properti itu berada, sarana infrastruktur apa yang sudah dan akan ada, serta bagaimana sebuah properti tersebut memberikan segala macam kemudahan akses ke berbagai tempat.

“Bahasa investor sudah tidak lagi efektif. Namun, investor tetap ada, sehingga perlu cara komunikasi yang beda untuk menarik mereka karena mereka tambah pandai dan berpengalaman pasca-booming properti tahun 2000,” jelas Ronny.

Konsumen yang tak lagi dikuasai oleh investor juga membuat para agen dan pengembang properti mengubah gaya pemasarannya. Generasi milenial yang saat ini merupakan generasi emas calon pembeli properti tak terlalu tertarik dengan gimmick-gimmick pemasaran properti zaman dulu.

Mereka lebih tertarik tentang bagaimana kemudahan membayar cicilan, kemudahan mencapai lokasi kerja dan nongkrongnya, kemudahan untuk tetap hidup tanpa beban, serta kemudahan memperoleh sarana infrastruktur penunjang kehidupan pribadi dan sosial mereka.

Ronny pun meyakini kondisi saat ini berpotensi untuk mengakhiri era investor dalam bisnis properti. Milenial sebagai konsumen end user diperkirakan bakal mendominasi pasar properti dalam negeri selama beberapa tahun ke depan.

Berkaca dari hal tersebut, UrbanAce sebagai perusahaan rintisan baru memberikan kesempatan bagi para milenial untuk mendapatkan kemudahan dalam membeli properti. Lewat UrbanAce, generasi milenial yang saat ini tengah mulai sibuk bekerja akan diberikan kemudahan dari mulai memilih, membeli, dan kemudian menempati sebuah hunian.

Sementara itu, untuk milenial yang ingin menjual properti juga lebih mudah. Mereka tidak perlu lagi membawa-bawa brosur sebab sudah ada di dalam satu aplikasi UrbanAce. Menjual properti yang tidak dikejar target dan bisa dilakukan di mana saja tentu menarik minat milenial yang berjiwa bebas.

So, ini waktunya #StopSellingStartTelling di UrbanAce!

UrbanAce, we bring your real estate online.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *