Ruang Kerja yang Lebih Santai Terbukti Tingkatan Produktivitas Pekerja

Bersama berkembangnya zaman, kantor-kantor di kota besar di Indonesia mulai mengubah wajah mereka. Kantor yang selama ini dibatasi dengan partisi mulai berubah jadi lebih santai dan juga seolah menghilangkan sekat antara atasan dan bawahan.

Tommy H Bastamy, Managing Partner Coldwell Banker perubahan zaman membuat tren perkantoran berubah, termasuk juga meningkatkan jumlah permintaan working space di Indonesia.

Ke depan, bahkan working space akan jadi pilihan karena sudah jenuhnya kantor-kantor yang lebih formal. Apalagi di Jakarta saat ini, ruang-ruang kantor tengah berada pada masa over supply sehingga banyak pula yang berubah menjadi working space.

Working space akan menjadi alternatif bagi perusahaan-perusahaan yang butuh fleksibilitas di zaman yang serba cepat ini,” jelas Tommy.

Ke depan, Tommy yakin working space akan makin bertumbuh bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi. Saat ini saja misalnya, working space sudah mulai bertumbuh di kota-kota lain selain Jakarta, seperti Yogyakarta, Bali, Bandung, dan juga Surabaya.

Selain itu, di setiap kota, pertumbuhan working space juga tidak sama dan menyesuaikan orientasi bisnis di daerah masing-masing. Tommy merinci, misalnya di Yogyakarta working space bertumbuh karena banyaknya freelance dan working space di sana menjadi wadah.

“Baik di Jakarta dan beberapa daerah lain, working space memiliki banyak kelebihan seperti harga yang terjangkau bagi start up, fleksibel, fasilitas yang baik, dan cocok bagi mereka dengan mobilitas yang tinggi. Ke depan, nampaknya usaha ini juga masih akan berkembang,” jelas Tommy.

Adapun okupansi working space di Jakarta misalnya lebih dari 80%. Misalnya Union Space, salah satu penyedia ruang kerja bersama yang dikembangkan asli dari Indonesia, tingkat keterisiannya hingga 90%. Linasari Santioso, Business and Operation Controller Union Space menyebutkan, okupansi di Jakarta Utara (Jakut) dan Jakarta Selatan (Jaksel) tentu berbeda. Di Jakut misalnya, belum banyak persaingan antara working space, sementara di Jaksel sudah lebih ramai.

“Di Jakut okupansi kami bisa mencapai 100%. Namun, ada ruang-ruang yang kami sisakan untuk mobilitas pelanggan utama kami sehingga secara rata-rata berada di kisaran 80% hingga 90%,” jelas Linasari.

Dengan okupansi yang cukup tinggi tersebut, Union Space akan resmikan lima ruang kerja bersama atau co-working space baru di Indonesia.

Setelah sebelumnya hadir di 2 lokasi di Jakarta yakni di kawasan Pantai Indah Kapuk dan Cilandak, Unionspace menambah 3 unit di ibu kota dan 2 di antaranya adalah co-working space khusus perusahaan rintisan teknologi finansial.

Selain itu, perusahaan yang dulu bernama CRE8 ini mulai merambah kota lain di Tanah Air yakni 1 unit di Bandung dan 1 lainnya di Surabaya, serta sedang menjajaki Bali sebagai lokasi co-working space Union Space selanjutnya.

Langkah tersebut merupakan bagian dari target perusahaan penyedia jasa ruang kerja bersama ini untuk ekspansi ke berbagai kota di Indonesia. Sementara itu, di kawasan Asia Tenggara Unionspace juga tengah bersiap meresmikan unit bisnisnya di Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Di sisi lain, Nuke Permatasi Country Director CEO Suite mengatakan ke depan persaingan penyedia working space akan makin ketat, baik nama-nama lokal maupun internasional. Namun begitu, Nuke menyebutkan hal tersebut harus dihadapi.

“Tentu kami harus menghadapi persaingan, dan di sinilah kreativitas kami dituntut untuk terus bergerak, apalagi didukung dengan tren yang mulai membaik saat ini,” ungkap Nuke.

Lebih jauh, Nuke menyebutkan saat ini working space sudah mulai dikenal sehingga menciptakan kesempatan-kesempatan yang lebih banyak untuk terus mengembangkan diri. Hingga saat ini, tingkat okupansi CEO Suite berkisar di 85%. Selain di Jakarta, CEO Suite juga hadir di Kuala Lumpur, Singapura, Shanghai, Beijing, Manila, Bangkok, Seoul, dan Hanoi.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *