Mengenal Co-Living Solusi Milenial yang Belum Bisa Beli Rumah

Generasi millenial adalah orang yang lahir antara awal 1980-an dan akhir 1990-an. Pada akhir 2016, Ipsos MORI, perusahaan konsultan, melakukan survei tentang generasi millenial.

Dari survei tersebut diketahui jika generasi adalah generasi yang melek teknologi, dengan kecakapan mencapai 54 persen. Generasi ini juga dikenal materialis dengan hasil survei mencapai 45 persen, egois sebanyak 39 persen, pemalas sebanyak 34 persen, dan arogan mencapai 33 persen.

Meski hal ini belum tentu benar, berdasarkan laporan Time pada 2013 mendukung persepsi buruk atas generasi millenial tersebut sebagai hal yang memang benar. Ditulis oleh Joel Stein, laporan itu menyatakan millenial hanya memikirkan eksistensi diri sendiri, tak mau berusaha, dan bergantung pada teknologi.

Hal serupa diungkapkan Anton Sitorus, Director, Head of Research and Consultancy Savills Indonesia. Ia menyebutkan, meski tahun ini umur generasi millenial sudah cukup matang, mereka tidak memikirkan investasi jangka panjang seperti emas atau rumah seperti generasi sebelumnya.

“Generasi millenial bukan generasi yang gemar menabung. Mereka cepat sekali spend money. Tapi hunian bukan hal yang utama bagi mereka. Millenial cenderung memilih gawai saat mereka memiliki uang,” jelas Anton kepada wormtraders.com.

Selain itu dalam membeli hunian, generasi millenial juga lebih memiliki banyak kriteria. Namun, menurut Anton, generasi millenial adalah generasi yang paling cocok tinggal di high rise building (apartemen) yang berada di pusat kota, dengan fasilitas lengkap, serta dekat dengan tempat kerja.

“Mereka suka yang praktis, namun ujung-ujungnya akan mentok di harga. Tetapi generasi millenial bukan generasi yang suka menahan. Saat punya uang, pasti akan langsung digunakan apalagi jika sudah cocok,” ungkap Anton.

Meski belum banyak dan belum ada data yang valid, papar Anton, selama dua tahun terakhir mulai banyak pembeli end user.

Lebih jauh Anton menyebutkan, pembeli end user adalah orang yang membeli untuk digunakan dan biasanya adalah rumah pertama. Meski dalam riset yang dilakukan tidak sampai mengetahui umur pembeli, namun Anton memprediksi pembeli rumah-rumah tersebut adalah generasi millenial.

Adapun di Asia, berdasarkan penelitian terbaru, generasi millenial juga sudah memilih berbagi (sharing) bukan sekadar ruang kerja atau transportasi, bahkan tempat tinggal. Mereka mulai beralih untuk berbagi akomodasi bersama dalam bentuk tempat tinggal baru di mana para penghuninya memiliki  kesamaan dalam gaya hidup, menurut laporan “Bridging the housing gap” oleh konsultan real estate JLL.

Berbagi tempat tinggal atau co-living di Asia mulai berkembang di Hong Kong dan Cina, karena harga rumah yang sudah sangat tidak terjangkau. Berbagi tempat tinggal antara pelajar dan profesional muda sudah sangat populer di banyak negara, sementara yang membedakan co-living adalah pengelolaannya dilakukan secara profesional.

Sebagian besar pengelola mengutamakan pelayanan dengan aspek komunitas seperti kelas yoga, pemutaran film, makanan dan minuman gratis, hingga acara networking dengan pembicara tamu dan workshop yang disesuaikan dengan masing-masing ketertarikan dan minat dari penghuninya.

“Bagi mereka yang belum mampu membeli rumah sendiri, kehadiran co-living menawarkan solusi yang terjangkau bagi kebutuhan mereka,” kata Head of Research, JLL Hong Kong, Denis Ma.

Selain itu, co-living menjadi alternatif bagi mereka yang masih tinggal di rumah keluarga, sewa bersama, atau rumah susun. Nilai tambah dari co-living juga dianggap berpotensi untuk memperbaiki kesejahteraan penghuni secara keseluruhan.

Di Cina, konsep co-living dimulai oleh YOU+ International Youth Community, disusul oleh pengelola lain yang muncul pada tahun 2012. Pada akhir tahun 2016, terdapat hampir 90 pengelola di seluruh Cina. Vanke Port Apartment adalah salah satu pengelola terbesar Cina, yang memiliki lebih dari 60.000 unit.

Sementara itu, YOU+ mengoperasikan 16 properti, Mofang juga bertambah menjadi sekitar 15.000 unit, ZiRoom mengoperasikan 7 properti dan Coming Space mengelola 10.000 unit.

Permintaan generasi millenial untuk co-living sangat besar di Cina. Dalam lima tahun terakhir terdapat 43 juta mahasiswa yang baru lulus kuliah. Dengan tingginya harga perumahan di Cina, dibutuhkan waktu setidaknya tiga sampai lima tahun bagi mereka untuk bisa membeli rumah sendiri.

“Artinya, mereka harus menyewa atau mencari alternatif tempat tinggal jangka pendek. Karena itu, co-living jelas adalah opsi yang menarik,” menurut Joe Zhou, Head of Research, JLL Cina.

Terinspirasi oleh fenomena co-working, beberapa pengelola telah membawa pekerjaan dan gaya hidup ke dalam satu tempat. Misalnya di India, saat ini terdapat empat perusahaan startup yang memiliki fokus pada co-living di Gurgaon dan dua yang berbasis di Bengaluru.

Sementara itu di Singapura, Aurum Investments, anak perusahaan dari co-working space Collision8, telah berinvestasi di sebuah startup co-living baru bernama Hmlet. Ada juga startup 5Lmeet yang berbasis di Beijing.

Usaha rintisan ini tidak hanya bergerak dalam berbagi akomodasi, melainkan juga menawarkan penghuninya sebuah kantor terbuka, serta fasilitas lainnya seperti restoran, tempat olahraga dan ruang acara.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *