5 Langkah yang Wajib Kamu Jalani Sebelum KPR Rumah Bekas

Banyak orang berharap bisa membeli rumah, baik yang sudah berkeluarga maupun masih hidup melajang. Namun, keterbatasan dana kerap menjadi penghalang dalam mewujudkan impian tersebut.

Alih-alih membeli rumah baru, rumah bekas atau second pun bisa dijadikan alternatif bagi mereka yang ingin memiliki rumah dengan harga murah dan cukup terjangkau. Sama seperti rumah baru, rumah bekas pun dapat kamu beli dengan cara tunai atau kredit.

Jika kamu ingin membeli rumah bekas dengan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah atau KPR, maka artikel ini wajib kamu baca sebab membeli rumah bekas dengan KPR tidak semudah yang kamu pikirkan. Ada beberapa proses yang mesti kamu lalui dan kurangnya pemahaman terhadap hal tersebut justru akan menyulitkan kamu.

Berikut ini beberapa langkah yang harus kamu ketahui sebelum membeli rumah bekas dengan skema KPR.

Ukur kemampuan finansial agar kamu tahu sejauh mana kemampuan kamu dalam menyicil KPR. (foto: Pexels)

1. Mengukur kemampuan finansial
Membeli rumah adalah sebuah hal yang membutuhkan modal besar dan juga perhitungan matang. Mengukur kemampuan finansial menjadi hal paling penting sebelum kamu memutuskan beli rumah agar kamu tahu sejauh mana kemampuan kamu dalam menyicil KPR.

Pada umumnya, bank menetapkan aturan untuk jumlah maksimal angsuran rumah adalah 30% dari penghasilan bulanan. Jumlah tersebut pun bisa gabungan antara penghasilan suami-istri jika kamu sudah berkeluarga. Sebagai contoh, jika misalnya penghasilan gabungan antara kamu dan pasanganmu per bulannya adalah Rp 20 juta, maka jumlah yang bisa digunakan untuk menyicil angsuran rumah adalah maksimal Rp 6 juta.

Satu hal yang kemudian harus kamu pahami adalah jika dalam pembelian rumah baru dikenakan uang muka atau DP sebesar 20% hingga 30%, maka hal sama pun berlaku untuk pembelian rumah bekas dengan skema KPR. Bedanya, untuk rumah baru, DP tersebut diberikan ke pihak pengembang, sedangkan untuk rumah bekas DP itu diberikan langsung ke penjual rumah.

Setelah tahu mana rumahnya, negosiasikan harganya. (foto: Pexels)

2. Pilih rumah yang diinginkan lalu negosiasikan harganya
Tak seperti rumah baru, pilihan rumah bekas biasanya sangat terbatas. Maka dari itu, jika kamu menemukannya dan merasa cocok segera temui penjual rumah tersebut dan lakukan negosiasi. Hal ini penting dilakukan agar rumah tersebut tidak dibeli orang lain terlebih dahulu.

Tahap negosiasi ini yang kemudian perlu kamu lakukan sebaik mungkin. Tahapan ini harus dilakukan dengan baik sebab jika kamu pandai merayu si penjual maka tidak mungkin kamu dapat menghemat cukup banyak uang dalam membeli rumah. Patut diingat bahwa bank tidak akan membiayai 100% pembelian rumah kamu.

Bank biasanya hanya akan membiayai 80% dan sisanya harus kamu lunasi melalui uang muka. Kenapa bank tidak mau membiayai 100% untuk rumah bekas? Jawabannya karena ada alasan appraisal yang merupakan tahapan penaksiran harga rumah oleh pihak bank. Untuk nilai appraisal tersebut sering kali di bawah harga yang ditetapkan oleh penjual.

Saatnya kamu menentukan KPR yang paling cocok dengan kemampuan finansial kamu. (foto: Pexels)

3. Bertemu pihak bank dengan membawa persyaratan lengkap
Setelah kamu bertemu dengan penjual, kamu bisa buat perjanjian dan meminta kesempatan untuk mencari KPR. Pada tahapan ini, kamu juga bisa membuat perjanjian khusus dengan penjual agar rumah yang ingin kamu beli tersebut tidak dijual ke orang lain.

Setelah membuat kesepakatan dengan penjual, saatnya kamu menentukan KPR yang paling cocok dengan kemampuan finansial kamu. Untuk itu, kamu harus melengkapi persyaratan yang diperlukan untuk mengajukan KPR tersebut seperti kartu keluarga (KK), KTP, surat nikah, NPWP, slip gaji 3 bulan terakhir, rekening koran tabungan tiga bulan terakhir, dan surat keterangan kerja.

Selain persyaratan tersebut, kamu juga diwajibkan untuk melengkapi dokumen rumah yang bisa diperoleh dari penjual seperti fotokopi IMB, fotokopi sertifikat tanah atau rumah, fotokopi bukti pembayaran PBB tahun terakhir, dan surat kesepakatan jual beli rumah antara penjual dan pembeli dengan tanda tangan di atas materai.

Proses Appraisal menjadi pembeda utama antara membeli rumah baru dan bekas. (foto: Pexels)

4. Proses Appraisal
Proses ini menjadi pembeda utama antara membeli rumah baru dan bekas. Dalam membeli rumah baru, kamu tidak akan menjalani proses appraisal. Proses appraisal ini dilakukan seluruhnya oleh bank sehingga kamu tidak perlu melakukan apa-apa pada tahapan ini. Kamu cukup berdoa dan menunggu bank selesai melakukan proses survei ini sebab pada tahap ini pula bank menentukan harga rumah tersebut.

Sebelumnya, bank akan meminta biaya terlebih dahulu untuk menjalankan proses appraisal ini yang jumlahnya kira-kira Rp 450 ribu. Biaya tersebut bisa kamu bayar dalam dua cara. Pertama pembayaran di awal atau sebelum dilakukan proses appraisal dan kedua setelah proses appraisal dilakukan dan KPR disetujui. Setelah appraisal ini selesai, kamu nantinya akan dihubungi oleh pihak bank untuk proses selanjutnya. Jika KPR kamu disetujui kamu harus siapkan uang tunai guna menutupi kekurangan biaya yang telah ditentukan bank.

Sebelum menandatangani akad, bank akan memberikan kamu Surat Perjanjian Kredit atau SPK terlebih dahulu.(foto: Pexels)

5. Selesaikan perjanjian dan tanda tangan akad kredit
Setelah bank selesai melakukan appraisal, kamu tinggal membereskan perjanjian-perjanjian yang ada dan menandatangani akad. Setelah itu, bank akan mencairkan KPR. Namun, sebelum menandatangani akad, bank akan memberikan kamu Surat Perjanjian Kredit atau SPK terlebih dahulu.

Di dalam SPK, kamu akan mengetahui tentang biaya-biaya kredit, besaran bunga, biaya penalti, dan temasuk penentuan penunjukkan notaris yang akan mengurusi segala macam legalitas dokumen atau persetujuan debitur.

Nah, berbicara soal rumah bekas, UrbanAce sebentar lagi siap meluncurkan penjualan properti untuk pasar sekunder lho! Dengan begitu, kamu bisa memperoleh rumah bekas langsung dari UrbanAce. (Ridwan Aji Pitoko)

Sumber: cermati.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *